KEPEMIMPINAN DARI PERSPEKTIF SEJARAH

KEPEMIMPINAN DARI PERSPEKTIF SEJARAH

Karya Orijinal : Pdt.Dr. John Virgil, D.Th

Bahan Ajar di Fakultas Kepemimpinan

Hal yang menarik apabila berbicara perihal kepemimpinan adalah pengaruh. Pengaruh meliputi dua hal penting yakni: Ilmu (pengetahuan) dan Seni (ketrampilan).

Kepemimpinan adalah ilmu dan seni (hal ini sama dengan pengertian homiletika) dimana sebagai ilmu kepemimpinan menggunakan cara-cara ilmiah untuk memahami maksud dari kepemimpinan baik secara faktual (mengandung kebenaran), aktual (sesunguhnya), maupun kontekstual (situasi yang ada hubungannya dengan kejadian). Sedangkan sebagai seni, kepemimpinan sangat memperhatikan unsur-unsur estetika (kepekaan terhadap seni dan keindahan) dan sistematika  (susunan aturan) dan logika (jalan pikiran yang masuk akal).Dengan demikian dapat dikatakan kepemimpinan sebagai ilmu mencakup perihal pengetahuan tentang kepemimpinan dan seni mencakup perihal ketrampilan tentang kepemimpinan.                                    Telah dikatakan di atas bahwa kepemimpinan itu mencakup dua hal yakni ilmu dan seni. Dengan demikian sebagai ilmu dan seni, maka kepemimpinan itu terus berkembang. Hal yang menarik apabila berbicara perihal kepemimpinan tidak terlepas dari pemimpin itu sendiri, orang yang dipimpin, dan lingkungan dimana mereka berada. Namun dalam hal ini seorang pemimpin berperan penting dalam kepemimpinan.

MEMAHAMI KEPEMIMPINAN DALAM SEJARAH

Salah satu tema penting yang harus dikaji oleh manusia adalah mengamati dan meneliti dengan seksama tentang keadaan dunia yang modern ini secara kritis. Dunia tempat manusia hidup berada dalam keadaan krisis kepemimpinan secara komprehenshif. Tema-tema penting yang disimbolkan dalam aktivitas hidup manusia senantiasa merujuk pada tindakan-tindakan manusia yang cenderung melepaskan dirinya dari suasana kepemimpinan.

Manusia dan sesamanya dalam realitas sosial cenderung memposisikan diri sebagai ancaman bagi orang lain. Kenyataan ini termanifestasi pada perilaku-perilaku manusia dalam interaksi sosial yang ditunjukkan dalam beberapa peristiwa, seperti: pembunuhan, penipuan, penjarahan, korupsi, kolusi, nepotisme, pemerkosaan, pelacuran, dll.

Hal ini tentunya merupakan fenomena riil bahwa karena krisis kepemimpinan, akhirnya manusia terperanjat dalam perilaku-perilaku negatif yang menghancurkan manusia itu sendiri.                                  Dimensi penciptaan sejarah  mencatat bahwa sejak manusia pertama (Adam) diciptakan, Allah bertindak sebagai pemimpin untuk mengarahkan, menuntun, membimbing manusia pada jalan kebenaran yang telah ditetapkan dalam perintah-perintah-Nya.   

Akan tetapi Adam telah membuktikan dirinya untuk tidak taat kepada Allah. Adam atas  kehendaknya melepaskan diri dari suasana kepemimpinan. Sebagai akibat ketidaktaatannya kepada Allah, tidak mau diperintah oleh Allah, akhirnya Adam bertindak diluar kehendak Allah dengan melakukan kejahatan (Kejadian 3).

 Kenyataan ini tidak segera berakhir, dalam sejarah perkembangan kehidupan manusia dan sesamanya, manusia tidak henti-hentinya melepaskan diri dari suasana kepemimpinan. Padahal kepemimpinan sangat berarti/berfungsi untuk memberikan ketertiban atau nilai-nilai hukum kepada manusia agar manusia bebas dari kejahatan.

Setelah Adam, generasi berikutnya, yakni Kain melakukan tindakan yang maknanya sama seperti yang dibuat oleh Adam walaupun versinya berbeda. Jika modus operandi yang ditampilkan oleh Adam adalah memanipulasi kehendak Allah, maka modus operandi yang ditampilkan oleh Kain adalah pembunuhan. Begitu pula yang dilakukan oleh kedua anak Lot, mereka memperdaya Lot dan tanpa diketahui olehnya, ia telah ditiduri oleh kedua anaknya tersebut (Kejadian 19:30-38).   

Situasi seperti ini terus berlangsung dalam kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok dalam lingkup kemasyarakatan. Hal tersebut terlihat jelas seperti yang  terjadi  pada Yusuf. Oleh karena  perasaan  iri hati yang  terdalam pada saudara-saudaranya, mereka terpaksa menjualnya. Mereka menyangkal bahwa Yusuf adalah bagian integral dari keluarga tersebut dan tidak mau mengakui keunggulan-keunggulan yang ada pada Yusuf (Kejadian 37).

Dalam lingkup kebangsaan, kenyatan seperti ini terlihat sangat jelas seperti yang ditampilkan oleh  Firaun di Mesir. Firaun di Mesir senantiasa menjadikan dirinya sebagai ilah-ilah dunia yang harus disanjung, disembah oleh manusia yang menjadi warga Negara Mesir. Firaun di Mesir senantiasa tidak mengakui bahwa Allah yang disembah oleh para leluhur bangsa Israel adalah Allah yang hidup dan kepada-Nyalah manusia harus menyembah.

            Firaun berupaya memutarbalikkan fakta bahwa ia adalah wakil Allah, diijinkan Allah untuk memerintah atas segenap manusia untuk menjalankan pemerintahan Allah di dunia. Ia mengangkat diri sebagai ilah-ilah zaman bahkan dalam keberadaannya sebagai Firaun, ia menindas, melemparkan isu rasialisme sehinggga bangsa lain (orang-orang Yahudi) ditindas, bahkan hak-hak asasi manusia diabaikan. Firaun merupakan gambaran dari pemimpin yang tidak mau memberikan dirinya untuk dituntun oleh Allah  sehingga kebijakan-kebijakan yang dijalankan cenderung tidak menjadi berkat.

 

Selain itu kita juga melihat para ahli masa depan atau futurology moderen yang menganalisa gejala-gejala (phenomena) keadaan dan perkembangan yang sedang berlangsung sekarang ini dan menyajikan prediksi atau prakiraan tentang apa yang akan terjadi dimasa depan serta memberi saran-saran bagaimana seharusnya kita bertindak atau menyikapi tentang hal ini. Menurut para ahli dari barat ini seakan-akan kita tidak ada yang tersembunyi lagi, atau tidak ada lagi misteri masa depan, karena telah dianalisa  atau diuraikan gejala-gejala, tanda-tanda, serta perubahan-perubahan yang sedang terjadi, yang menunjukkan bagaimana wujud dan keadaan masa depan itu. Dengan demikian kita dapat mengantisipasi dan menyiapkan diri menghadapi masa depan, dalam perubahan millennium

Sebagai orang yang beriman kristiani, tentu kita tidak dapat seratus persen atau secara mutlak mengatakan bahwa masa depan itu akan ‘begini dan begitu’ kita percaya bahwa Tuhan Allah kita adalah Allah sang pencipta, Allah yang hidup, yang tidak saja menciptakan dunia serta isinya  lalu lepas tangan, lepas tanggung jawab, menyerahkan tangung jawab atau ‘kreasi’atau penciptaan itu pada jalannya “hukum alam” tidak!

Kita percaya bahwa Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi serta segala isinya adalah juga Tuhan sejarah, Allah masih perduli pada penciptaa-Nya, Allah tetap bertindak dalam sejarah umat manusia hingga saat ini. Tuhan masih bekerja ditengah dunia, diantara makluk ciptaa-Nya, melalui roh-Nya yang kudus. Kita adalah makhuk yang diciptakan oleh Tuhan ”Menurut gambar Allah” (Kejadian 1:1) atau “hampir sama seperti Allah” (Mazmur 8:6). Namun, realita kehidupan manusia membuktikan secata telak bahwa: “kehidupan manusia” jauh sekali dari pada yang dimaksudkan oleh “karya penciptaan” yang dilihat Allah sebagai sungguh amat baik (Kejadian 1:31).

 

Sebagai orang beriman, sebagai umat kristiani, kita percaya pada kesaksian Alkitab  yang menyatakan bahwa Allah  berkenan memilih umat Israel sebagai umat pilihan untuk menjadi sarana penebusan-Nya, mengembalikan umat manusia kejalan yang benar. Kitapun percaya pada kesaksian Alkitab, bahwa umat Israel ternyata telah gagal dalam peran dan tugas yang telah diberikan Tuhan Allah, sehingga Tuhan sendiri berkenan untuk datang ke dalam dunia: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita.”kai ho logos sarx egeneto” (Yohanes 1:14) . Tuhan Allah sendiri bersedia menangung koksekwensi dari “kasih-Nya”, yakni menangung akibat atau “resiko” dari karya penyelamatan-Nya itu.

Tuhan Allah kita di dalam Tuhan Yesus Kristus telah mengintervensi dunia ini, telah ”melibatkan diri” secara proaktif dalam sejarah manusia untuk memberikan jalan keselamatan itu, sekaligus untuk selamanya, dan sekali untuk semuanya ”Once,forever and for all.”

Kita percaya bahwa dalam membuat manusia secara khusus itu Tuhan Allah mempunyai maksud  yang khusus pula, yakni untuk dilibatkan  dalam karya penyelamatan-Nya dalam kehadiran dan misi penyelamatanya ini Allah berkenan memakai dan bekerja sama dengan manusia, dengan Maria ibu Yesus, dan Yusuf sebagai suami Maria, dan dengan Yesus sebagai inkarnasi dari Allah sendiri, juga dengan para rasul dan dengan murit-murid Tuhan Yesus lain-Nya.

Demikian juga dengan semua umatnya, umat pilihan-Nya, Tuhan Allah berkehendak untuk melibatkan mereka sebagai ”kawan sekerja” atau patner kerja-Nya. Alkitab banyak mengisahkan bagaimana Tuhan Allah melibatkan manusia dalam karya kasih-Nya. Allah berkenan memilih mereka yang akan memimpin umat manusia kembali kejalan yang benar sejak Abraham, Musa,Yosua, Yesaya,Yeremia dan para nabi yang lain, juga para hakim, bahkan para raja dalam Perjanjian Lama.

Demikian juga halnya dalam Alkitab Perjanjian Baru dan seterusnya di dalam sejarah gereja para pemimpin umat Kristen  diajak bekerja sama oleh Tuhan Allah dalam karya Tuhan. Bahkan sepanjang sejarah umat manusia, Allah selalu berkenan melibatkan manusia, yakni dengan jalan memilih diantara mereka orang-orang yang akan diserahi untuk memimpin umatnya dan hal ini terus terjadi atau berlangsung hingga kini.  

Allah sebagai sang pencipta, khalik langit dan bumi, Adalah Allah yang perduli pada pencipta-Nya, oleh karena itu Tuhan kita kenal sebagai Tuhan yang maha kasih  tidak membiarkan saja kerusakan atau kehancuran terjadi atau terjadi pada karya ciptaa-Nya yang dikasihi. Karena kasih-Nya maka Allah berkenang untuk memulihkan atau mengembalikan ciptaan-Nya menjadi utuh kembali, menjadi ’amat baik’ lagi. Namun cara Tuhan menyempurnakan kembali ciptaa-Nya  rupa-rupanya tidak sama dengan penciptaan alam semesta, yang merupakan suatu ‘Creation ex nighilo’ , yakni penciptaan dari ketiadaan, karena Tuhan inggin secara khusus pula, yakni yang kepadanya Allah telah menghembuskan ”nafas hidup”, atau yang kepadanya Allah telah memberi  “nafas kehidupan” (Kejadian 2:7).Allah menghendaki manusia sebagai “kawan sekerja Allah”. Tuhan Allah inggin melibatkan umat manusia dalam karya penyelamatan-Nya. Allah tidak berkenan untuk bekerja sendirian (meskipun dalam ketrinitasannya) melainkan berkenan memanggil umatnya, yang dipilih-Nya, umat yang disendirikan-Nya, umat yang dikuduskan-Nya, agar menjadi sarana untuk menyelamatkan seluruh ciptaanya untuk mengembalikan keutuhan ciptaan-Nya.

Setelah diamati dengan seksama tentang kenyataan di atas, jika disorot dalam relevansi kenyataan dunia kini dalam kacamata kepemimpinan, keadaan dunia sekarang cenderung tidak jauh berbeda dengan apa yang disaksikan oleh Alkitab pada masa lalu.Hampir seluruh pemimpin cenderung tidak memberikan dirinya untuk dipimpin oleh Allah. Kenyataan inilah yang menunjukkan bahwa manusia berpotensi untuk melakukan kejahatan.

 

Tanda-tanda pergantian millennium menurut berbagai ahli adalah terjadinya peristiwa-peristiwa yang bersifat catastrophic (kekacauan, kerusuhan, dsb) yang melanda seluruh dunia atau bagian dunia.Banyak terjadi konflik dengan kekerasan seperti peperangan antar bangsa atau antar etnik, pertikaian bersenjata, perang saudara dan bencana alam seperti kebakaran hutan, badai, topan, banjir, hama dan kecelakaan-kecelakaan baik di darat, laut maupun di udara. Hal ini dapat dibaca setiap hari dikoran dan majalah, didengar melalui radio dan dilihat melalui televisi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: