KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA DARI PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN KRISTEN

KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA

DARI PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN KRISTEN

Pdt. Dr. John Virgil, D.Th

Email: johnvirgilmart@gmail.com

Website: http://johnvirgilmart.wordpress.com

Matius 20:27

A

pabila kita berbicara tentang kepemimpinan tidak akan pernah ada habisnya. Oleh karena ada ribuan definisi tentang kepemimpinan telah dibuat. Demikian pula ada ratusan buku kepemimpinan telah ditulis. Namun siapakah yang dapat menghayati dan menghidupi ajaran Yesus Kristus, Sang Pemimpin-Hamba yang Sejati itu? “Menjadi pemimpin bukanlah menjadi tuan (lord over) atas orang lain.” “Yang terbesar dari seorang pemimpin bukanlah ketika ia menjalankan kekuasaan (exercise authority) atas orang lain.” Menjadi pemimpin adalah menjadi hamba. Menjadi pemimpin adalah menjadi budak (slaves) atas orang lain. Dan yang terbesar dari seorang pemimpin-hamba adalah ketika ia berhasil melayani dan mau menjadi “jongos” (baca: budak) bagi orang lain. Itu semua adalah definisi kepemimpinan versi Sang Pemimpin-Hamba Sejati. Dan Dia tidak sekedar mendefinisikan, tetapi juga menjadi model yang nyata bagi definisi kepemimpinan tersebut: ”Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (a ransom) bagi banyak orang.” (Markus 10:45).

 

Dengan demikian ada pertanyaannya bagi kita adalah, mudahkah proses menjadi pemimpin yang menghamba ini? Ah, betapa sulitnya bagi kita yang seringkali masih ego-centrist. Charles R. Swindoll (Improving Your Serve) menggambarkan, betapa manusia seringkali membangun sebuah menara piramida yang dibangun atas dasar ”aku,” ”milikku,” dan ”diriku sendiri.” Semangat kesuksesan demi pemujaan diri masih begitu melekat di dalam diri kita. Bahkan diakui atau tidak, disadari atau tidak, jiwa narsistik (memuja diri sendiri) seringkali menjangkiti banyak orang yang mengaku pengikut Kristus. Untuk itu, jalan memikul salib dan menyangkal diri nampaknya harus menjadi tangga pertama yang harus kita pijak: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23; bdk. Matius 16:24 dan Markus 8:34). Dan jujur saja, menyangkali diri adalah sebuah proses yang harus dilatih.

Apakah ”motivasi kepemimpinan” Yesus, menurut Anda? Apakah agar Ia bisa bergaya, pamer kekuasaan serta unjuk kekuatan? Apakah untuk menunjukkan atau membuktikan ”Who’s the Boss?” – siapa ”boss”, siapa ”jongos”? Sama sekali tidak!” Motivasi kepempimpinan” Yesus adalah justru untuk menyatakan ketaatan-Nya kepada Allah. Untuk mengemban dan melaksanakan kehendak Allah. Untuk mencerminkan kepemimpinan dan otoritas Allah. ”Makanan-Ku,” demikian Ia pernah bersabda, ”ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34). ”Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu jadilah”
Sebab itu kita dapat mengatakan, bahwa ”motivasi kepemimpinan” Yesus bersifat ”GOD-ORIENTED”. Artinya: tertuju, terarah, serta terfokus kepada Allah. Dan karena ”God-oriented” inilah, maka – sebagai implikasinya – ”motivasi kepemimpinan” Yesus juga bersifat ”OTHERS-ORIENTED”. Artinya: tertuju, terarah, terfokus kepada orang lain. Mengapa? Sebab seluruh dunia dan segenap umat manusia itulah, orientasi kasih Allah (Yohanes 3:16).

Dengan demikian ”motivasi kepemimpinan” tertentu akan melahirkan ”filsafat kepemimpinan” tertentu pula. Jadi, misalnya, kalau motivasi kepemimpinannya ”SELF-ORIENTED”, atau tertuju hanya kepada kepentingan diri, maka tak sulit diduga, ”filsafat kepemimpinan” macam apa yang akan dilahirkannya. Pasti tidak akan lari jauh dari, katakanlah, filsafat atau prinsip ”Milikmu milikku, tapi milikku milikku”. Maksudnya suatu ”filsafat kepemimpinan” yang berkarakter atau bersifat merampas, memeras, menebas, menggilas. Hal itu sangat mengerikan.

 

Yesus telah mengembangkan “filsafat kepemimpinan”, yang pertama filsafat kepemimpinan “IKUTLAH AKU” dan kedua filsafat kepemimpinan “PERGILAH KAMU”. “IKUTLAH AKU” adalah sapaaan, undangan dan tantangan pertama yang Yesus perhadapkan kepada murid-muridNya dan merupakan pola relasi yang ingin Yesus jalin dengan murid-muridNya. Hal ini berarti mengikuti Dia dengan seluruh kedirian kita, dengan seluruh akan budi kita dan bukan sekedar menganut agama tertentu.
”IKUTLAH AKU”. Di telinga kita, dua kata tersebut pasti terdengar akrab. ”Ikutlah Aku”, adalah sapaan, undangan, dan tantangan pertama yang Yesus perhadapkan kepada murid-murid-Nya.
Lalu ”Ikutlah Aku” merupakan pola-relasi yang ingin Ia jalin dengan mereka. Karena itu, ”Ikutlah Aku” adalah karakteristik, identitas, sebutan setiap murid Yesus—”Kristen” berarti itu.
Tapi mengapa ”mengikut”? Mengapa bukan ”menganut”? Sebab yang Yesus kehendaki dari kita, saudara, bukanlah sekadar ”menganut” agama tertentu.

 

”PERGILAH KAMU”. Hal ini berarti tidak hanya menggerakan orang ke dalam menjadi ”introvert” dan ”egois” tetapi juga memotivasi orang ke luar menjadi ”ekstrovert” dan ”misioner”.

 

Bagaimana gaya kepemimpinan kehambaan Yesus Kristus. Gaya Kepemimpinan Yesus Adalah kepemimpinan hamba. Yesus sebagai pemimpin hamba bertugas sebagai penggerak segala potensi yang ada agar tercapai pengembangan dan perkembangan.

1.   Pengertian Hamba

      Istilah populer yang sering disebut-sebut dalam konteks kepemimpinan hamba maupun dalam kalangan Kristen, yakni hamba TUHAN seringkali disalahartikan. Hal itu terjadi karena hakekat pemahaman dan bentuk pemahaman bertentangan. Sehinggga istilah hamba Tuhan menjadi suatu Honoris Causa (gelar kehormatan) saja bagi kepemimpinan Kristen oleh masyarakat gereja. Istilah hamba TUHAN dalam dunia perjanjian lama memiliki beberapa pengertian dan penggunaannya sebagai berikut:

            Kata Ibraniעבד   “eved”, budak, hamba, pelayan. Kata Yunani δουλος /doulos /doo’-los  memiliki pengertian yang sama. Seorang bekerja untuk keperluan orang lain (G. A. Smith). Ia pekerja yang menjadi milik tuannya (Zimmerli). Di luar Alkitab kata itu berarti budak; hamba yang melayani raja; bawahan dalam politik keterangan tentang diri sendiri untuk menunjukkan kerendahan hati; dan hamba-hamba dalam kuil-kuil kafir (Zimmerli).

         Pengertian hamba Tuhan telah dijelaskan Tuhan Yesus melalui hidup, karya dan kepemimpinan-Nya selama berada di dunia secara nyata. Oleh karena itu, hakekat diri dan kenyataan hamba Tuhan telah digenapi dalam hidup dan kerja Tuhan Yesus, baik didalam kesengsaraan-Nya maupun dalam kemuliaan-Nya. Maksud dan pengertian kepemimpinan hamba (hamba Tuhan), dijelaskan Tuhan Yesus dalam Matius 20:27, sebagai berikut “Dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”. Maksud Yesus dengan pernyataan ini adalah semakin seseorang diberikan kedudukan atau jabatan dalam kepemimpinan semakin ia memimpin dalam kehambaan.  Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa pemimpin hamba adalah mereka yang memperhambakan diri dalam kepemimpinannya. Sehubungan dengan hal itu maka Yesus menjelaskan: Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan (Lukas 17:10).

            Oleh karena itu, dari pernyataan di atas, maka dapat dikatakan, pemimpin hamba adalah hamba dari pengikutnya. Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa tentang kepemimpinan hamba (Servantship), bersifat horizontal dan vertikal. Secara panggilan pemimpin kristen adalah hamba Tuhan, tetapi secara kepemimpinan ia adalah hamba jemaat (dalam tugas).

Pemimpin gereja kehambaan harus melakukan kepemimpinannya dalam sikap merasa berhutang, sehinggga ia terhindar dari pencarian kehormatan bagi dirinya. Kepemimpinan gereja yang ditandai oleh perilaku kehambaan, adalah bagian integral (keseluruhan) dari tata kerja Kerajaan Sorga.

2.   Pengabdian Sebagai Hamba

Tanggung jawab seorang hamba ialah setia dan dapat dipercayai oleh tuannya. Tanggung jawab seorang pemimpin hamba bagi ialah kesetiaannya kepada Tuhan yang mempercayainya untuk memimpin dan ditandai dengan bukti pegabdian sebagai hamba Tuhan dalam pelayanannya di dalam jemaat. Searah dengan itu Leroy Eims menjelaskan:

      Pemimpin adalah sarana utama yang digunakan Allah untuk menjaga umat-Nya agar tetap bergerak kearah yang benar dan mengerjakan hal yang benar, seorang pemimpin harus berani menghadapi kesulitan dan kritikan.

Tanggung jawab seorang pemimpin kehambaan adalah melalui upaya pengabdiannya menjaga dan mengarahkan jemaat kepada arah yang dikehendaki Allah.

            Mental pengabdian pemimpin kehambaan dalam jemaat bersifat persuasif dan utuh, karena hati yang diabdikan mampu menjalankan kepemimpinan kehambaan secara konsisten. Oleh karena Itu,  Tuhan Yesus berkata: “Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”(Matius 11:29).

3.   Pokok Utama Tugas Hamba

      Dalam kepemimpinan  kehambaan bagi hal yang primer bukanlah hanya tugas memimpin, tetapi kesigapan pemimpin hamba adalah hal primer. Pokok utama bagi seorang pemimpin kehambaan adalah memuliakan Allah dalam hal apapun melalui pikiran, ucapan dan tindakan. Hal primer tersebut  dijelaskan oleh John Stott sebagai berikut:

Jadi, bagi pengikut-pengikut Yesus, pemimpin itu tidak sinonim dengan menjadi tuan. Panggilan kita adalah untuk melayani, bukan untuk menguasai. Panggilan kita adalah menjadi hamba bukan menjadi raja. Memang benar, kepemimipinan mustahil tanpa otoritas tertentu. Tanpa itu siapapun tak bisa memimpin. Tidak terkecuali para Rasul. Mereka diberikan Yesus otoritas dan mereka menjalankan otoritas itu dalam mengajar dan mendidik ketaatan kepada gereja. Juga para pendeta jemaat masa kini, meskipun mereka bukan rasul dan tidak memiliki otoritas rasuli harus dihormati karena kedudukan mereka sebagai pemimpin jemaat (1 Tesalonika 5:12 dst). Bahkan harus ditaati (lbrani 13:17). Namun, titik berat yang diletakkan Yesus bukanlah atas otoritas pemimpin-penguasa, melainkan atas kerendahan hati pemimpin-hamba.



1 John Virgil, Kasih Kristus Fondasi Spritual Kepemimpinan Kristen, YAKI, 2003.

2 Edyted by: Zpiros Zodhiates, The Complete Words Study Old Testamen, USA: AMG Publisher, 1994.

3 John Virgil, Pengaruh Kekaguman Pengikut Terhadap Ciri Pemimpin, Gaya Kepemimpinan, Situasi Kepemimpinan, Iklim Kerja, YAKI, 2008.

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: